Senin, 19 Maret 2012

KENYATAAN TENTANG PERNIKAHAN


Setelah sepasang kekasih menjalin hubungan spesial dan merasa cocok, keputusan untuk menikah tentu menjadi langkah selanjutnya.
Namun, meskipun sepasang kekasih sudah melewati masa berpacaran yang lama, masih saja ada banyak fakta tentang pasangan yang baru diketahui setelah menikah. Seperti apakah pernikahan itu? Apa peran suami dan istri yang benar dalam pernikahan?

Para pendeta dan konselor pernikahan berulang kali mendengar pernyataan yang tidak benar dari suami dan istri. Inilah kenyataan tentang pernikahan yang sering kali dipertengkarkan oleh masing-masing pasangan bila sedang tertekan.

1.       Anda Tidak Menikah Dengan Orang Yang Salah.
Biasanya seorang istri dengan cepat bertanya-tanya apakah ia menikah dengan orang yang tepat atau sang suami mulai berpikir bahwa ia melakukan kesalahan. Hal ini sering terjadi dalam masa penyesuaian, ketika harapan-harapan ideal dalam pernikahan diperhadapkan dengan kenyataan.

  1. Tenyata istriku tidak dapat memasak.
  2. Ternyata suamiku tidak mampu menyetel karburator.
  3. Kami memiliki pandangan yang berbeda dalam hal keuangan.
  4. Masing-masing menyadari bahwa pasangannya cepat tersinggung, keras kepala, mudah marah, atau tertekan.
Oleh karena itu, Anda mulai berpikir bahwa Anda menikah dengan orang yang salah. Namun, kini bukan saatnya berpraduga. Anda telah menyatakan komitmen seumur hidup.
Tanggung jawab Anda di hadapan Allah adalah tetap bersama dengan orang yang telah Anda nikahi.

Matius 19:4-9;
19:4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
19:7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
19:8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

1 Korintus 7:10-14.
7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku -- tidak, bukan aku, tetapi Tuhan -- perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
7:12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
7:13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
7:14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.

2.       Kegagalan Suami Memimpin Bukan Alasan Bagi Anda.
"Ya..." seorang wanita muda berkata dengan sungguh-sungguh, "Kalau saja suamiku memimpin sebagaimana seharusnya ia lakukan, segala sesuatu akan berjalan lancar. Namun ia tidak melakukannya, sehingga aku harus mengambil keputusan. Lalu ia mengkritik keputusan-keputusanku. Aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi."

Wanita itu benar di satu sisi. Suaminya seharusnya menjadi kepala rumah tangga. Ia harus memegang tampuk pimpinan, khususnya dalam hal-hal rohani. Namun, kegagalannya memimpin bukanlah alasan bagi sang istri untuk tidak taat.
Tanggung jawab di hadapan Allah tetap menuntutnya menjadi istri yang penuh kasih, bertumbuh dalam iman, dan memiliki kecantikan batin.
Jika ia menggunakan kegagalan suaminya sebagai alasan bagi tingkah lakunya yang tidak baik, ia sama gagalnya seperti suaminya.

1 Petrus 3:1-6.
3:1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,
3:2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.
3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,
3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
3:5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,
3:6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

3.       Kegagalan istri untuk tunduk bukan alasan bagi Anda.
Beberapa suami membangun suatu alasan untuk menoleransi setiap kelemahan atau kegagalan -- mereka menyalahkan istrinya.
  1. "Ia terlalu alim. Ia mengoreksi setiap kali saya mencoba memimpin kebaktian keluarga. Karena kesalahannya itu, kami tidak pernah mengadakan kebaktian keluarga lagi."
  2. "Ia ingin membeli rumah ini. Lebih baik saya turuti karena itu akan menyenangkan hatinya. Salahnya sendiri kalau kami sampai mengalami kesulitan keuangan."
Jika seorang pria mulai berbicara seperti ini, maka ia menolak untuk mengambil tanggung jawab dalam proses memutuskan apakah kebaktian keluarga perlu diadakan atau tidak. Memang benar istrinya memberi masukan, tetapi mungkin ia hanya ingin mempertahankan pendapatnya. Namun hal ini bukan alasan bagi sang suami. Ia harus berhenti menyalahkan istrinya dan mulai melakukan apa yang benar di hadapan Allah.

4.       Seks Bukan Hal Yang Selalu Dipikirkan Suami.
Kadang-kadang seorang istri yang bekerja keras dan sangat sibuk mulai berpikir bahwa suaminya hanya tertarik padanya jika kebutuhan seksnya dipenuhi. Perasaan ini dapat menjadi berat bila beberapa keadaan berikut ini benar-benar terjadi.
a.        Suami gila kerja.
b.       Istri harus merawat rumah yang besar.
c.        Suami jarang menolong anak-anak.
d.       Jadwal mereka berdua sangat padat.

Memang benar bahwa suami Anda perlu diingatkan bahwa Anda memiliki kebutuhan lain selain kebutuhan fisik. Namun, mungkin Anda terlalu mengasihani diri sendiri dan membesar-besarkan masalah. Anda berdua harus mengadakan penyesuaian. Cobalah untuk tidak mendakwanya. Bicarakan perasaan Anda. Rencanakan suatu akhir pekan dengan piknik bersama dan jangan menunda. Masalah ini perlu diselesaikan sebelum menjadi lebih besar.

5.       Penampilan Bukan Hal Yang Selalu Dipikirkan Istri.
Kenyataan kelima tentang pernikahan adalah bahwa wanita lebih sering memikirkan penampilan. Namun, beberapa suami tidak percaya akan hal ini. Mereka membantah:
  1. "Ia selalu ingin membeli sesuatu yang baru untuk rumah kami."
  2. "Biasanya istriku butuh waktu yang cukup lama untuk memilih baju."
  3. "Ia berkata bahwa lemari dapur perlu diperbaiki, padahal bagi saya lemari itu masih cukup baik."
  4. "Persiapannya sebelum pergi sangat lama dan kami selalu terlambat!"
  5. "Ia senang belanja dan menghabiskan uang yang kudapat dengan susah payah hanya untuk membeli aksesori."

Memang benar bahwa wanita membanggakan penampilan. Dibanding pria, mereka lebih sering memperlihatkan apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka. Petrus berbicara terus terang kepada para wanita tentang bahaya bila terlalu menekankan penampilan luar, padahal seharusnya mereka memerhatikan "manusia batiniah yang tersembunyi" (1 Petrus 3:4).

Namun suami-suami, mari kita hadapi masalah ini! Kita membutuhkan istri untuk menolong kita. Beberapa dari kita ceroboh. Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa kita senang dengan perhatian mereka terhadap hal-hal kecil.


Rabu, 22 Februari 2012

KASIH YANG SEJATI

Semua orang bisa mencintai; yang membedakan satu dengan yang lain adalah bagaimana kita mencintai. Amnon pun mencintai Tamar, adik tirinya, namun setelah ia memperkosanya, cintanya terhadap Tamar lenyap, "... bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu daripada cinta yang dirasakannya sebelumnya." (2 Samuel 13:15)

Cinta dapat dibagi dalam dua golongan besar:
1. cinta yang menghancurkan, dan
2. cinta yang membangun.

Cinta yang menghancurkan:
1. Menguasai -- tidak memberi ruang gerak untuk menjadi diri apa adanya.
2. Manipulatif -- menggiring orang untuk memenuhi kepentingan pribadi saja.

Cinta yang membangun (1 Korintus 13):
Sabar, murah hati (kind), tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan (not rude), tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu (always protects), percaya segala sesuatu (always trusts), mengharapkan segala sesuatu (always hopes), dan sabar menanggung segala sesuatu (always perseveres).

Kesimpulan:
1. Tidak mementingkan diri sendiri, memfokuskan pada pasangan -- apa yang baik dan benar baginya.
2. Menghormati pasangan, memberinya ruang gerak menjadi dirinya sendiri.
3. Mengampuni dan menerima kelemahannya.
4. Menjaganya.
5. Memercayainya.
6. Bersedia menderita dengannya.

Minggu, 19 Februari 2012

Perspektif : Pacaran dalam Ke-kristen-an

Pacaran merupakan suatu topik yang hangat dan lazim ditemui di tengah-tengah kalangan pemuda. Di dalam gereja, seringkali kita bisa melihat banyak teman-teman kita yang sudah berpacaran ataupun sedang ”PeDeKaTe” (pendekatan) kepada lawan jenisnya. Namun demikian, banyak orang Kristen (bahkan di antaranya mungkin teman kita atau kita sendiri) yang tidak berpasangan dengan orang yang seiman dan sepadan.
Bolehkah orang Kristen memiliki pasangan yang tidak seiman dan sepadan? Pertanyaan ini seringkali diabaikan oleh orang Kristen karena tidak menyadari pentingnya konsep berpasangan dalam ke-Kristen-an.
Istilah Kristen di sini bukan hanya sekedar menunjuk kepada orang Kristen secara umum tetapi kepada pengikut Kristus yang tunduk kepada Firman Tuhan.

Tentang Pacaran :
Apakah berpacaran menurut konsep Kristen? Apa perbedaannya pacaran Kristen dengan pacaran non-Kristen?
Berpacaran adalah suatu tahap yang melampaui tahap persahabatan antara seorang pria dan wanita, sebagai persiapan untuk memasuki tahap pernikahan. Yups! Terdengar begitu serius. Kenyataannya memang seserius itu. Banyak orang tidak mengerti keseriusan berpacaran dan hanya mengira kalau itu hanya untuk senang-senang. Pacaran melibatkan emosi dan jiwa, sehingga jangan heran kalau setiap kegagalan dalam berpacaran akan menimbulkan dampak pada hidup seseorang.
Kalau sudah menyadari bahwa pacaran adalah sesuatu yang serius, lalu apa?
Hanya menyadari kalau pacaran adalah sesuatu yang serius tidaklah cukup. Kita juga sebagai orang Kristen harus menyadari bahwa setiap hidup kita adalah untuk Tuhan, 
Kolose 1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
dan tujuan hidup kita adalah untuk mempermuliakan Tuhan dan menikmati Dia di dalam setiap aspek kehidupan kita, termasuk di dalam hal mencari pasangan hidup. Karena itu, kita tidak boleh sembarangan di dalam berpacaran dan di dalam mencari pacar.

Sebelum seorang Kristen mencari pasangan, dia harus terlebih dahulu menyadari beberapa poin :
1.  Dia hidup untuk mempermuliakan Tuhan dan menikmati-Nya (Roma 11:36). Iman yang sejati adalah iman yang menyandarkan hidup sepenuhnya kepada Kristus sebagai Juruselamat dan menjadikan-Nya Tuhan (Yesus menjadi Penguasa dan kita taat sepenuhnya) di dalam kehidupan kita. Bukankah sesuatu yang wajar bila segenap hidup kita mempermuliakan Tuhan kita? Jadi sebelum mencari pacar, setiap orang Kristen harus menyadari bahwa mencari pasangan pun supaya mempermuliakan Tuhan dan dengan demikian mencari pacar yang bisa membuat kita terus lebih mempermuliakan Tuhan.
2.  Dia menyadari ada panggilan yang Tuhan tetapkan di dalam hidupnya. Setelah ditebus oleh Kristus, hidup kita pun memiliki tujuan (purpose) dan ada panggilan khusus bagi kita sebagaimana kita masuk di dalam rencana kekal Allah. Mungkin banyak orang belum tahu panggilannya secara pasti termasuk masalah pasangan hidup. Mencari pasangan hidup bertujuan untuk menggenapi panggilan yang telah Tuhan tetapkan di dalam hidup kita.
3.  Kehidupan pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan kudus. Karena itu, pernikahan dan pacaran (persiapan pernikahan) tidak boleh dipermainkan atau dibuat mainan. Seksualitas (keintiman) juga diciptakan Tuhan sebagai sesuatu yang kudus yang boleh dinikmati oleh manusia secara bertanggung jawab di dalam pernikahan. Seksualitas dilakukan bukan sekedar untuk memuaskan nafsu birahi melainkan untuk menikmati suatu keintiman yang menggambarkan relasi antar Pribadi Allah Tritunggal dan menggambarkan relasi Kristus dengan jemaat-Nya.

Dari poin-poin di atas kita dapat langsung membedakan perspektif berpacaran secara Kristen dan non-Kristen. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa berpacaran secara Kristen tidak berpusat kepada diri tetapi pada Tuhan. Sedangkan berpacaran non-Kristen tidak mungkin berpusat pada Tuhan karena tidak adanya relasi dengan Tuhan.

Pasangan Tidak Seiman :
Apa salahnya punya pacar yang tidak seiman dan sepadan? Kan gak pasti dia akan tetap tidak percaya? Bukankah malah ada kesempatan juga untuk mempertobatkan dia?

Memang benar kalau ada kemungkinan pasangan yang tidak seiman tersebut bisa bertobat. Namun demikian, bertobat atau tidak bertobat bukan terletak di tangan kita. Allah yang sudah menetapkan umat pilihan-Nya sehingga Dia tahu apakah seseorang akan bertobat atau tidak. Kita hanya dapat menginjili orang tersebut. Masalah percaya atau tidak, itu di luar kedaulatan kita.
II Korintus 6:14–15,
6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
6:15 Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?

Di dalam ayat ini, Paulus telah memperingatkan anak-anak Tuhan untuk tidak berpasangan dengan orang-orang yang tidak seiman. Memang latar belakang ayat ini tidak hanya tertuju secara spesifik kepada masalah pasangan hidup. Ayat ini juga mencakup gaya hidup, konsep pemikiran, dan lain-lain. Inti dari perikop ini adalah untuk menyucikan diri dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita di dalam takut akan Tuhan (II Korintus 7:1).
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.
Tetapi yang menjadi permasalahan adalah mengapa orang Kristen ngotot untuk berpacaran dengan orang non-Kristen? Apakah motivasi di baliknya? Benarkah motivasinya untuk menguduskan pasangannya (dengan menginjilinya agar bertobat) atau sebenarnya ‘rumput tetangga lebih hijau’ dan mencoba merohanikannya? Jika benar motivasi kita adalah penginjilan, apakah harus melalui pacaran? Kita dapat menginjili siapa saja tanpa menjadikannya pasangan kita bukan? Jadi, jikalau memang motivasi kita bukan untuk penginjilan, biarlah kita jujur mengatakannya. Tetapi, kejujuran ini tidak melegitimasikan ketidaktaatan kita kepada Firman Tuhan. Ini berarti kita yang harus bertobat dan menundukkan diri kita kembali kepada otoritas Firman Tuhan menjadi penuntun hidup kita.

Problematika berpasangan dengan orang yang tidak seiman dan sepadan :
Banyak orang yang hidup rukun meskipun pasangannya tidak sepadan. Kalau begitu, kenapa tidak boleh? Apakah dampak hidup dengan pasangan yang tidak seiman dan sepadan?

Pasangan Kristen dan non-Kristen memang dapat terlihat hidup di dalam kerukunan. Namun sebenarnya, di dalam lubuk hati terdalam terdapat bentrokan besar di antara kedua belah pihak, kecuali pihak yang Kristen berkompromi. Meskipun seseorang mengkompromikan imannya untuk dapat bersama-sama dengan pasangan yang tidak seiman dan sepadan, dia tidak dapat memungkiri kalau sebenarnya dia tidak bahagia karena pernikahannya tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana seharusnya sebuah pernikahan (lihat poin ke-3 di atas).

Beberapa perbedaan yang pasti akan menjadi masalah ketika seorang Kristen berpasangan dengan orang yang tidak seiman dan sepadan:
1.  Status hidup – Sebagai orang beriman, status hidup kita sudah diubah menjadi anak-anak Allah. Kita memiliki sebuah hubungan yang indah dengan Bapa di surga. Rasul Paulus menggambarkannya di dalam ayat yang dikutip di atas dengan perbandingan antara terang dan gelap.
2.  Standar hidup – Sebagai orang beriman, standar hidup kita adalah Firman Tuhan. Kita sadar kalau kita harus taat sepenuhnya kepada Allah dan tunduk kepada otoritas Alkitab. Bagaimana dengan pasangan kita yang non-Kristen?
3.  Tujuan hidup – Sebagai orang beriman, tujuan hidup kita adalah mempermuliakan Tuhan dan menikmati Dia selamanya. Kita rindu segala sesuatu yang kita lakukan dapat menyenangkan Tuhan. Gol dari hidup orang Kristen adalah Tuhan sendiri, sedangkan gol hidup non-Kristen adalah untuk diri, dunia, dan setan.
4.  Arti hidup – Sebagai orang beriman, kita menemukan kepenuhan arti hidup ketika kita bertemu dengan Kristus baik di dalam keselamatan (sebagai Juruselamat) maupun seluruh aspek hidup kita (sebagai Tuhan). Singkatnya, arti hidup kita adalah Kristus. Namun, pasangan yang non-Kristen akan hidup tanpa Kristus, setiap hal yang mereka lakukan adalah sia-sia, seperti kata Pengkhotbah.
5.  Eksistensi hidup – Setiap orang beriman dikatakan sudah dipindahkan dari mati kepada hidup, sedangkan orang non-Kristen masih berada di dalam kematian. Hal ini membedakan keberadaan dan kualitas hidup itu sendiri, orang Kristen menghidupi kehidupan yang hidup, yang berarti bertumbuh, sedangkan orang non-Kristen menghidupi kehidupan yang mati, yang berarti membusuk.

Implikasi :
Apakah motivasi kita ketika bertanya bolehkah orang Kristen berpasangan dengan non-Kristen? 
Biarlah kita jujur di hadapan Tuhan dan sebagai anak Tuhan rela tunduk hidup di bawah otoritas kebenaran firman Tuhan. Dengan demikian, kita belajar di dalam aspek ini mempertuhankan Kristus dalam hidup kita. Jadi, marilah kita belajar mencari kehendak Tuhan yang adalah pusat dari hidup kita dan bukan mencari batasan sampai di mana kita masih ‘tidak melanggar’ kehendak Tuhan. Soli Deo Gloria.

Jumat, 10 Februari 2012

KASIH TANPA SYARAT


Dalam sebuah upacara perkawinan, ada pasangan yang mengucapkan ikrar perkawinan seperti ini, "Saya berjanji akan mencintaimu selama saya bisa tetap jujur pada diri saya sebagai manusia, saya berjanji akan mencintaimu selama kita mampu saling membantu mengembangkan potensi masing-masing semaksimal mungkin, saya berjanji akan mencintaimu selama cinta kita tak berubah." Janji tersebut mengungkap suatu ketetapan niat yang bersyarat. Janji itu berlaku selama syarat-syarat itu dipenuhi.

Hal ini berbeda dengan kasih kristiani yang tak bersyarat. Dalam mengasihi, kita harus meninggalkan syarat-syarat kasih seperti berikut.

Kasih Yang Memilih :
Secara alamiah kita cenderung hanya mengasihi orang-orang yang seperti kita; memiliki persamaan suku, minat, hal kejiwaan, pekerjaan, atau ekonomi. Pilihan-pilihan ini menambahkan sebuah syarat pada cinta. "Saya akan mencintai dirimu selama...."

Banyak pria dan wanita modern yang amat pemilih dalam menentukan siapa yang akan mereka kasihi. Pola khas pergaulan semacam ini ialah memilih dua atau tiga orang teman dekat, dan boleh dikatakan mengabaikan yang lain.
Bila jumlah teman dekat yang mereka pilih itu menurun, syarat-syarat pun bertambah. Seseorang terpilih sebagai teman, sebab dia seimbang dengan seseorang yang memilihnya. Karenanya, sumber-sumber perselisihan yang mungkin ada diperkecil, agar dapat memperoleh manfaat sebanyak mungkin dari persahabatan itu.

Inilah pola yang saya ikuti sebelum saya menjadi orang Kristen. Saya memunyai dua teman akrab saja. Hubungan kami membentuk suatu lingkungan yang akrab dengan beberapa aspek yang baik, namun tertutup. Hubungan kami menjadi hubungan yang sangat mengikat diri dan terbatas pada kelompok kecil saja.

Akhirnya, kami bertiga menjadi Kristen (menerima Kristus sebagai Juru Selamat) dan menjadi anggota jemaat yang sama. Kami masih tetap berhubungan erat. Dalam banyak hal, ikatan kami semakin kuat, karena ikrar kami sebagai orang Kristen. Namun kini, kami masing-masing juga dekat dengan sejumlah anggota lain dari kelompok yang lain. Dan kami merasa terikat juga pada banyak orang yang sama sekali berbeda dengan diri kami.

Kasih Yang Menguntungkan :
"Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu... kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat." (Lukas 6:27-28, 32-35)

Kasih kristiani tidak mengharapkan balas budi dari kasih yang mereka berikan.
Sebenarnya, kita cenderung mengasihi orang-orang yang mampu membalas kasih kita saja, atau orang-orang yang menghargai kita. Akan tetapi, hal itu membatasi kasih kristiani. Ketika Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Ia menentukan batas yang lebih tinggi dalam kasih.

Tentu, selalu ada orang-orang yang sukar untuk kita kasihi. Ini normal. Mungkin beberapa orang tadi adalah musuh kita, yakni orang-orang yang hendak menyakiti kita, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang hanya menjengkelkan kita, orang-orang yang kepribadiannya bertolak belakang dengan kepribadian kita. Namun demikian, mengasihi orang-orang seperti ini ada juga keuntungannya bagi kita. Mereka itu seperti kertas ampelas yang menimbulkan pergesekan. Manfaatnya timbul apabila sifat-sifat mereka yang menjengkelkan itu menghasilkan sesuatu yang kita butuhkan, seperti kesabaran yang lebih besar, toleransi, keluwesan, dsb.. Ini semacam pemolesan rohani. Walaupun kita memperoleh manfaat dari pemolesan ini, tetapi ini bukan alasan utama untuk mengasihi orang lain, dengan tidak mempersoalkan apakah kita akan mendapat keuntungan atau tidak bila kita mengasihi mereka.

Adakalanya, orang-orang yang sukar kita cintai ini akan menghargai usaha kita. Tetapi walaupun mereka tak menghargai usaha kita, kita harus mengasihi mereka dan melayani mereka, seperti yang dilakukan Yesus (Lukas 17:11-18).

Walaupun Yesus tidak menyetujui sikap tak tahu berterima kasih, bahkan Ia mengecamnya, namun kasih-Nya tidak bergantung pada ucapan terima kasih yang diberikan, sebagai alasan atas kasih-Nya. Bila kita mendapati diri kita melayani orang-orang yang lupa menyatakan terima kasih mereka, kita tidak boleh menanggapi sikap mereka itu dengan mengatakan, "Itulah kali terakhir saya membantu mereka." Akan tetapi, sebagaimana Tuhan kita, Yesus, kita hendaknya mengasihi dan melayani orang-orang yang tak tahu berterima kasih. Pelayanan ini tak dapat dilakukan dengan kasih yang bergantung pada keuntungan.

Kadang kala, kasih itu menguntungkan. Kasih itu menular. Orang-orang yang kita kasihi cenderung membalas kasih kita. Tetapi keuntungan perseorangan bukanlah urusan kita. Kita harus mengasihi tanpa memedulikan apakah itu menguntungkan atau tidak.

Kasih Yang Berhati-Hati :
"Kasih itu penuh risiko. Apa yang terjadi bila orang yang Anda kasihi itu berpaling dan mengkhianati Anda? Apakah yang akan terjadi bila orang yang Anda kasihi itu meninggal dunia, atau menemui kemalangan? Bukankah kasih hanya akan membuat hati Anda terluka?" Kasih yang berhati-hati berusaha melindungi diri dari dukacita. Hal menjauhi dukacita, kesulitan, dan cobaan akan menjadi syarat-syarat kasih. Cara semacam ini menjadi semakin umum dalam hubungan kita, dan orang mudah berubah karena mereka mendasarkan kasih pada perasaan.

Tentu saja tidak bisa dijamin, bahwa kasih kristiani tidak akan membawa dukacita. Orang Kristen masih bisa berbuat dosa dan masih dapat saling menyakiti hati. Rasul Yakobus mengatakan bahwa kasih "menutupi banyak dosa." Maksudnya, ada banyak dosa yang dapat ditutupi. Hubungan yang langgeng hanya dimungkinkan dengan menahan kesedihan melalui kasih yang mengikat diri, bukan dengan cara menghindari kesedihan.

Daripada mencari-cari cara melindungi diri agar hati tidak terluka dalam pergaulan kita dengan sesama, lebih baik orang Kristen melakukan pendekatan lain dalam menangani hal tersebut. Dalam pelajaran bela diri, salah satu pelajaran pertama yang diberikan adalah cara menjatuhkan diri yang tepat. Para pelatih bela diri memang realistis. Mereka menganggap bahwa anak-anak asuhan mereka nantinya harus menahan tendangan-tendangan yang tangguh. Maka dari itu, mengetahui cara menjatuhkan diri yang baik, serta cara mengatasi pukulan-pukulan yang datang adalah ketangkasan yang penting.

Orang Kristen juga dapat belajar cara menahan sakit hati dalam hubungan antar pribadi, yakni melalui pengampunan, kesabaran, langsung menangani perselisihan, dst., tanpa membuat semakin tegang ataupun menjaga jarak.

Kasih Demi Pemuasan Diri :
"Saya butuh hubungan yang penuh kasih, supaya hidup saya memuaskan." Siapakah akan memungkiri fakta yang tersirat di dalam pernyataan itu? Kita semua butuh hubungan penuh kasih agar hidup kita memuaskan. Masalahnya bukanlah pemuasan diri, tetapi menganggap pemuasan diri sebagai tujuan hidup kita.

Bila pemuasan diri adalah tujuan akhir, maka akan ada kecenderungan untuk memandang hubungan kasih sebagai alat untuk mencapai tujuan itu. Sering kali pendekatan ini menuntun kita untuk memusatkan perhatian pada kebutuhan pribadi akan kasih sayang atau pemuasan diri sendiri melalui cinta. Kasih yang tadinya merupakan pelengkap dari pemuasan diri, kini menjadi syarat lain yang harus dipenuhi.

Tujuan hidup orang Kristen bukanlah pemuasan diri, melainkan kasih akan Allah dan sesama manusia. Ajaran-ajaran Alkitab mendorong kita untuk memusatkan diri pada sesama, dan bukan memikirkan diri sendiri. Kita mengasihi, bukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi sebagai tanggapan kasih Allah, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19) Kasih bukanlah upaya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu pemuasan diri, kebahagiaan, ataupun kepuasan pribadi; kasih itulah tujuannya.

Kasih Sebagai Ganjaran atau Hukuman :
Para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa teknik ganjaran dan hukuman sangat efektif untuk mengubah tingkah laku. Sebagai contoh adalah tikus, ia dapat dilatih untuk melakukan latihan-latihan yang cukup sulit.

Karena kasih itu sangat kuat, kita cenderung memakainya sebagai suatu ganjaran, atau menariknya kembali sebagai hukuman. Tetapi kasih semacam itu adalah kasih yang bersyarat. Kasih kristiani tidaklah untuk diamalkan dengan cara seperti itu. Kita tidak boleh menarik kembali ikatan janji kita untuk mengasihi orang lain, sebagai hukuman bagi orang tersebut bila ia bersalah; kita juga tidak boleh mengancam akan menarik kembali kasih kita, agar ia terdorong untuk mengubah dirinya. Dengan perkataan lain, mengasihi atau janji untuk lebih mengasihi hendaknya tidak dimanfaatkan sebagai alat pemikat.

Saya tidak mau memberi kesan bahwa kita berlaku tidak konsekuen jika kita mengasihi orang lain, dan bersamaan dengan itu pula, kita mencoba mengubah mereka. Kita bisa saja menerima dan mengasihi orang lain, dan pada saat yang sama, berusaha mengubah tingkah laku mereka.
Cara Tuhan menerima dan mengasihi kita adalah contoh yang baik, yang dapat kita terapkan dalam hubungan kita dengan ating.

Dalam kebaktian penginjilan yang dilakukan Billy Graham, sebuah lagu dinyanyikan, “Sebagaimana adaku, kudatang pada-Mu, Yesus.” Kata-kata lagu pujian itu menyatakan suatu kebenaran yang penting: Allah mengundang kita untuk ating kepada Yesus dan menerima keselamatan, walau bagaimanapun keadaan kita. Warta suci Kristus bukanlah “berubah dahulu, baru ating”, tetapi “datanglah, sebagaimana ada.”
Meskipun demikian, perubahan merupakan bagian berita keselamatan. “Datanglah sebagaimana adanya, tetapi jangan tetap dalam keadaan itu; berubahlah supaya serupa dengan Kristus.”

Maksud kasih yang mengubah tingkah laku ialah bahwa kasih yang kita berikan itu tidak tergantung pada tingkah laku orang, bukan berarti kita tak boleh berusaha mengubah kelakuan orang. Sebenarnya, adakalanya kita wajib mencoba memperbaiki tindak-tanduk seseorang. Misalnya, apabila tingkah laku seorang anak tidak pantas, maka orang tua wajib berusaha agar kelakuan anak mereka berubah. Kita tidak boleh mengabaikan tanggung jawab kita untuk membantu maupun mendorong orang yang kita cintai untuk mengubah kelakuannya, jika memang harus melakukannya. Namun, kita hendaknya jangan mengancam bahwa kita akan berhenti mengasihi mereka, jika mereka tidak mengubah kelakuan mereka.

Kasih Yang Harus Setimpal :
Keseimbangan dalam kasih itu bertalian dengan menjaga agar semua setimpal. Namun, mencari keseimbangan itu sama seperti hendak menjangkau bintang yang jauh sekali dari kita.

Dalam Efesus 5:25, Paulus mengatakan, "... kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat...." Nasihatnya membatalkan usaha untuk memelihara keseimbangan dalam kasih. Saya tidak dapat membayangkan bahwa Tuhan mengasihi umat-Nya seperti itu. Puji Tuhan, Ia tidak pernah menerapkan prinsip keseimbangan kasih semacam itu kepada saya.

Hanya kasih tanpa syarat -- kasih yang tidak ambil pusing dengan ketidakseimbangan dalam pernyataan kasih -- yang dapat mengakhiri prinsip kasih yang setimpal. Seperti Yohanes menuliskan, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita," bukan "kita mengasihi agar semua itu setimpal."

Dalam bentuk apa pun kasih itu muncul, kasih yang bersyarat bukanlah kasih kristiani. Kasih kristiani berdasarkan kasih Tuhan yang tidak bersyarat kepada umat-Nya, yakni kasih yang diulurkan-Nya kepada kita, walaupun kita memusuhi Dia (Kolose 1:21-22).

Ringkasan :
Kasih yang diamalkan oleh orang Kristen hendaklah kasih tanpa syarat. Kasih yang memilih, mendorong kita untuk hanya mengasihi orang-orang yang serupa dengan kita. Kasih yang menguntungkan, mendorong kita untuk mengasihi sesama bila kita melihat bahwa kasih yang kita tanamkan itu membuahkan hasil/balasan. Kasih yang berhati-hati, berusaha melindungi kita dari sesuatu yang menyakiti hati kita atau dari kekecewaan. Kasih demi pemuasan diri, hanya mengutamakan kebutuhan kita akan pemuasan diri. Kasih yang dipakai sebagai sarana untuk mengubah kelakuan orang yang kita kasihi, berarti menggunakan kasih sebagai ganjaran atau hukuman. Kasih yang harus seimbang, berusaha agar segala sesuatu seimbang, tidak pernah memberikan lebih banyak atau lebih sedikit kepada orang yang kita kasihi. Semua ini adalah bentuk kasih yang menyimpang dari kasih kristiani. Kasih kristiani, sama seperti kasih Tuhan, adalah kasih tanpa syarat.

Kamis, 26 Januari 2012

Apa Yang Merupakan Kesepian ?


Kesepian tidak sama dengan Kesunyian :
Kesunyian adalah isolasi fisik yang mungkin baik bagi kita. Yesus pergi menyendiri untuk merenung dan berdoa. Suatu kali, Rasul Paulus pergi meninggalkan teman-temannya, sehingga ia bisa merenung saat mereka sedang berlayar. Ia menginginkan kesunyian. Ia ingin sendirian.

Dalam kehidupan, saya menyadari bahwa setiap hari saya harus pergi menyendiri untuk berpikir, merenung, dan berdoa. Batin saya perlu "dibersihkan". Firman Tuhan memberi tahu kita bahwa kadang-kadang kita perlu sendiri bersama Tuhan, untuk berpikir, merenungkan Firman-Nya, dan berdoa.

Kita harus tahu bahwa kesepian tidak sama dengan sendirian, dan kita semua pasti pernah merasa sendirian. Namun, merasa sendirian tidak begitu menyakitkan seperti kesepian. Sebagai contoh, sering dalam perjalanan, ketika saya berada jauh dari keluarga, saya merasa sendirian untuk sementara waktu. Akan tetapi, saya tahu hal itu akan berakhir. Saya akan segera naik pesawat terbang, mobil, kereta api, dan pulang ke rumah.

Kadang kala, kita memiliki perasaan merana. Merana adalah kesendirian ditambah pengalaman dukacita dan kesedihan. Sering kali kita merasa merana karena kehilangan orang yang kita cintai. Kita tahu bahwa kita tidak akan bertemu lagi dengan orang itu sampai kita semua berada di surga, asal ia sudah lahir baru di dalam Yesus Kristus.

Apa Itu Kesepian :
Kesepian adalah suatu perasaan terasing dan terisolasi, tidak diinginkan, tidak dibutuhkan, dan tidak penting. Meskipun orang yang kesepian bisa tersenyum atau mengatakan bahwa mereka baik-baik saja, tetapi di dalam hatinya mereka terluka. Orang yang merasa kesepian juga sering berpikir tentang bunuh diri, karena mereka tidak dapat merasakan sukacita seperti yang dirasakan/datang dengan mudah kepada orang lain.

Menurut saya, kesepian adalah kekurangan gizi pada jiwa, yang berasal dari hidup yang tergantung pada hal-hal yang kurang berarti.

(Baca : Yesaya 55:1-2). 
55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.
 
Banyak orang yang memberi makan jiwa mereka dengan hal-hal yang kurang berarti. Mereka berpendapat jika seseorang memiliki pekerjaan, uang, dan makanan, maka orang tersebut akan dipuaskan. Nabi Yesaya mengatakan, "Kamu membelanjakan uangmu, tetapi kamu tidak membeli roti. Kamu bekerja keras tetapi pekerjaanmu tidak membuatmu puas. Ya, kamu memberi makan tubuh dan kantongmu, tetapi jiwamu sedang kelaparan dan kekurangan. Kamu sedang menggantungkan hidupmu pada hal-hal yang kurang berarti!"

Kesepian adalah kekurangan gizi pada jiwa akibat hidup dengan hal-hal yang kurang berarti. Dan yang lebih menyedihkan, banyak orang yang puas dengan pengganti. Mereka puas dengan hiburan, saat Tuhan menawarkan sukacita kepada mereka. Mereka puas dengan meminum obat tidur, saat Tuhan menawarkan kedamaian kepada mereka. Mereka puas dengan harga, saat Tuhan menawarkan nilai kepada mereka. Mereka puas dengan kesenangan, saat Tuhan menawarkan hidup yang berkelimpahan kepada mereka. Mereka puas dengan memainkan peranan di dalam masyarakat, saat Tuhan ingin menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya yang unik. Tuhan menawarkan mereka sesuatu yang berharga dan memuaskan yang jiwa. Ia menawarkannya "tanpa uang pembeli dan bayaran". Itu adalah kasih karunia Tuhan yang begitu besar dan tak terbatas.

Penyebab Kesepian :
Apa yang menyebabkan kesepian? Para sosiolog, psikolog, dan ahli medis telah mempelajari masalah kesepian selama bertahun-tahun. Para spesialis ini tidak selalu sepaham, namun mereka telah mencapai suatu kesimpulan perihal faktor-faktor penyebab kesepian.

1. Penyebab Sosial

Mobilitas kehidupan modern menyebabkan banyak orang tidak bertumbuh dengan baik dalam hal kerohanian. Mereka memunyai banyak kenalan, tetapi jarang memiliki persahabatan yang dalam dan tahan lama. Sebagai contoh, di Amerika, rata-rata 20 persen dari populasi berpindah setiap tahunnya. Ini berarti mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, tempat ibadah baru, dll.. Orang-orang yang tidak dapat memupuk persahabatan baru dengan cepat di tempat yang baru, biasanya membayar harga mobilitas tersebut dengan kesepian.

Persaingan hidup juga turut menyebabkan kesepian. Kita sibuk mencapai dan menomorsatukan kesuksesan. Kompetisi hidup tidak mendorong orang lain mendekati kita, tetapi menjauhi kita. Selain itu, sebagian orang merasa kesepian karena takut bahaya yang muncul baik di kota besar maupun kota kecil. Orang-orang yang sudah lanjut usia takut diserang penyakit. Orang-orang yang tinggal di perumahan memasang kunci dobel dan takut berbicara dengan orang asing. Dalam hal ini mereka tidak dapat disalahkan.

Untuk dapat memahami mengapa begitu banyak orang kesepian, Anda dapat menyatukan mobilitas dan persaingan dalam kehidupan modern, dengan rasa takut dan fakta bahwa kita hidup di dalam masyarakat yang sangat acuh tak acuh.

2. Penyebab Psikologis

Orang-orang yang kesepian sering kali memunyai karakteristik yang hampir sama. Salah satu contoh, mereka mudah terluka dan luka mereka tidak mudah sembuh dengan cepat. Suatu kali, mereka pernah sangat terluka dan hal ini menyebabkan mereka tetap menjaga jarak. Mereka mungkin pernah diremehkan oleh seorang karyawan yang berpotensi atau ditolak oleh teman atau orang yang penting dalam hidup mereka. Apa pun keadaannya, batin mereka terluka. Mereka takut disakiti lagi, sehingga mereka menarik diri ke dalam kerang perlindungannya. Mereka membawa luka-luka batin yang bernanah sampai mereka mengalami pembasuhan oleh kasih karunia Tuhan.

Orang yang kesepian tidak hanya orang yang disakiti orang lain; kadang-kadang mereka merupakan orang-orang yang menyimpan rasa bersalah. Mereka mungkin memunyai nurani yang tercemar, atau mungkin membawa penyesalan dari kesalahan dan dosa masa lalu. Mereka mungkin pernah melakukan dosa, dan noda-noda tersebut masih tertinggal di dirinya.

Orang-orang yang kesepian sering kali merupakan orang-orang yang rapuh. Kita harus memiliki rasa aman di dalam diri sendiri, agar dapat menjangkau dan berbagi dengan mereka. Anda harus tahu di mana Anda berdiri dan siapa Anda, dan apa yang mampu Anda lakukan untuk bisa menerima orang lain dan membina persahabatan. Bagi kebanyakan orang, bertemu orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan; tetapi bagi orang yang kesepian, bertemu orang lain merupakan sebuah ancaman. Anda tidak bisa membangun hubungan di atas fondasi yang tidak kukuh.

Orang yang kesepian terkadang membingungkan. Mereka tidak yakin dengan diri mereka sendiri, ke mana mereka pergi, atau mengapa mereka ada di sini. Itulah sebabnya, mengenal Kristus membuat kita mulai berjalan menuju penggenapan, karena ketika Anda mengenal Tuhan, Anda tahu dari mana Anda berasal, siapa diri Anda, dan apa yang Tuhan kehendaki bagi Anda.

Kadang-kadang, orang yang kesepian adalah orang yang egois. Hidup mereka dikendalikan oleh perasaan mengasihani diri sendiri dan cemburu dengan orang lain yang memiliki lebih dari apa yang dapat mereka miliki dan lakukan. Bukannya mengucap syukur untuk apa yang sudah mereka miliki, mereka duduk di sekeliling perasaan mengasihani diri sendiri karena apa yang tidak mereka miliki.

3. Penyebab Rohani

Salah satu akar penyebab kesepian adalah masalah rohani. Hubungan spiritual merupakan hubungan yang paling penting dalam hidup ini.
Hidup dibangun atas dasar hubungan-hubungan Anda dengan diri sendiri, orang lain, alam sekitar, dan terutama dengan Tuhan. Mampu mengenali, menerima, dan menjadi diri sendiri, memampukan Anda untuk berhubungan dengan orang lain. Ketika hubungan kita dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang lain berjalan sebagaimana mestinya, kesepian bukanlah suatu masalah. Ketika kita meninggalkan Tuhan di luar kehidupan atau tidak menaati-Nya dengan sengaja, kita membuka jalan masuk bagi kesepian.


Obat bagi Kesepian :

Adakah obat bagi kesepian? Ada! Kita tidak dapat mengubah masyarakat dan memaksa orang lain untuk berubah dengan mudah. Sebagian orang yang kesepian mungkin membutuhkan konseling Kristen profesional. Jika kesepian Anda mendekati depresi dan kehancuran, berarti Anda harus mendapatkan pertolongan dari seorang konselor Kristen yang berkompeten. Namun, orang yang kesepian dapat mulai mengalami kesembuhan batin dengan memercayai Yesus Kristus. Ia dapat memperbaiki hubungan yang hancur dengan Tuhan, diri kita sendiri, ciptaan lainnya, dan orang lain. Yesus Kristus dapat menolong kita untuk mengenali, menerima, dan menjadi diri sendiri. Hanya Yesus Kristus yang mampu membersihkan kita dari rasa bersalah akibat dosa dan memberi kita masa depan yang menyenangkan. Hanya Dia yang mampu membuat kita menjadi ciptaan baru, dan memberi kita kekuatan batin untuk menghadapi kehidupan dan mengatasi hambatan-hambatannya.

Selain karena masalah sosial, kesepian pada dasarnya adalah masalah hati. Apa yang dilakukan kehidupan terhadap kita, kebanyakan tergantung pada apa yang ditemukan kehidupan di dalam diri kita. Inti dari setiap masalah adalah masalah hati. Itulah sebabnya Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28) 
Yesus Kristus ingin masuk ke dalam hidup Anda, mengenal Anda, dan Ia juga ingin Anda mengenal-Nya. Ia ingin menyucikan Anda dan menjadikan Anda ciptaan baru. Anda dan Dia dapat bersama-sama memecahkan masalah-masalah yang selama ini menyebabkan kesepian di dalam hidup Anda.


Yesus Kristus adalah satu-satunya yang dapat memberi Anda hidup kekal. Itulah sebabnya Ia datang dan hidup di dunia, mati, dan hari ini hidup sebagai Juru Selamat, Tuhan, dan Sahabat Anda.
"Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku" (Mazmur 23:1).

Jumat, 20 Januari 2012

KESEPIAN ?


Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk sosial, karenanya kita tidak ingin merasa kesepian. Akan tetapi, di balik meningkatnya jumlah populasi dunia, justru ada banyak orang yang merasa kesepian.

Pernahkah Anda merasa kesepian ?
Atau pernahkan Anda mencoba menolong seseorang yang merasa kesepian? Kesepian bukanlah masalah baru. Kesepian sudah ada sejak lama.

Pemazmur dalam Mazmur 102:2-8 pun pernah mengalaminya :
102:2 TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.
102:3 Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!
102:4 Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian.
102:5 Hatiku terpukul dan layu seperti rumput, sehingga aku lupa makan rotiku.
102:6 Oleh sebab keluhanku yang nyaring, aku tinggal tulang-belulang.
102:7 Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan.
102:8 Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh.

Dalam dunia yang sudah mengalami ledakan populasi ini, kelihatannya aneh jika kesepian merupakan salah satu masalah terbesar. Saat ini, kesepian memang menjadi masalah serius, yang mau tidak mau harus diperhatikan.

Akibat Dari Kesepian :

1. Kesepian Berakibat Buruk Pada Fisik.
Sebuah survei melaporkan bahwa lebih dari 50 persen kasus pasien berpenyakit jantung, bersumber dari kesepian dan depresi.
Mereka mengaku bahwa mereka merasa kesepian dan depresi sebelum terkena serangan jantung. Sebagian besar penelitian bahkan mengindikasikan adanya hubungan antara kesepian dan beberapa jenis kanker.

2. Kesepian Memiliki Akibat Emosional.
Sebuah studi menemukan bahwa 80 persen pasien psikiatri mengatakan bahwa mereka mencari pertolongan karena merasa kesepian.
Kesepian dapat menyebabkan orang-orang menjadi gelisah, makan berlebihan, mabuk-mabukan, dan menderita insomnia. 
Setengah juta orang di Amerika mencoba bunuh diri setiap tahunnya, dan banyak dari percobaan ini berkaitan dengan masalah kesepian. Orang merasa kesepian dari hari ke hari, kemudian memutuskan untuk menghancurkan diri mereka sendiri.
Di Pusat Pencegahan Bunuh Diri di Los Angeles, California, banyak remaja yang diwawancarai mengaku bahwa percobaan bunuh diri yang mereka lakukan, berawal dari adanya rasa kesepian.

Tuhan tidak menciptakan kita untuk sendirian,
Kita diciptakan untuk memiliki hubungan dengan-Nya dan dengan orang-orang di sekitar kita. Ia menciptakan kita untuk menikmati kehidupan yang penuh daya cipta, menjadi orang yang bertumbuh, dan menikmati kekayaan yang disediakan-Nya. Karena itu, sungguh menyedihkan bila orang merasa kesepian dan gagal memperoleh semua yang Tuhan inginkan untuk mereka peroleh dalam hidup mereka.

Definisi Kesepian :
Mungkin lebih mudah untuk merasakan kesepian daripada menjelaskannya. Orang-orang profesional memiliki definisi klinis tersendiri dan orang-orang awam memiliki gagasan tersendiri; tetapi ada baiknya kita membaca buku-buku psikologis atau menyelidiki hati kita sendiri untuk mendefinisikannya. Kesepian bukanlah sesuatu untuk dijadikan bahan gurauan atau untuk diabaikan.

Kesepian Berarti :
Anda tetap merasa seorang diri saja, di saat Anda dikelilingi berbagai jenis orang, dan sebagian dari mereka bahkan mungkin ingin bertemu dan mengobrol dengan Anda.
Kesepian berarti, merasa terasing secara emosional di tengah-tengah keramaian, merasa tidak diinginkan dan tidak dibutuhkan. Orang-orang yang kesepian, berada di suatu tempat dan secara otomatis membangun tembok bukannya jembatan, serta melangkah mundur ketika orang lain melangkah maju untuk menyapa mereka.
Orang-orang yang kesepian menghadapi hari-hari mereka seolah-olah tidak ada tujuan hidup. Tidak ada lagi seorang pun yang benar-benar peduli. Kesepian menggerogoti batin seseorang secara perlahan-lahan, sampai seluruh kekuatan emosional menjadi lemah dan harapan hancur.

Kejadian 2:18, 21-22  TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." ...Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Setiap orang yg merasa kesepian harus berani mengambil keputusan: "Apakah saya mau membayar harga untuk mengubah situasi kehidupan saya ini?

Minggu, 04 Desember 2011

Akibat Dosa Dalam Berpacaran


Pembacaan Ayat : Mazmur 119:9 
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

Dewasa ini, pemberitaan tentang kemerosotan moralitas para pemuda semakin gencar dibicarakan khalayak umum. Dari gaya bicaranya, gaya hidupnya yang glamour, kekerasannya, menjadi seorang penipu, dan kebebasan seksualitasnya. 
Semua itu mencerminkan kelemahan mentalitas kaum muda yang kurang sekali menghargai dirinya sendiri. Akan dibawa kemanakah jika seorang muda memiliki mental seperti di atas? Apakah yang menyebabkan hal itu terjadi? Siapakah yang bertanggung jawab? Dan bagaimanakah seharusnya kaum muda dapat mempertahankan kesucian hidupnya?

Dalam dosa berpacaran persetubuhan pertama yang disertai dengan perasaan berdosa ini biasanya sangat mengecewakan. Mungkin mereka melakukannya dengan tidak bebas, takut dilihat orang, dan disertai dengan rasa bersalah. Semestinya hubungan seks itu dilakukan dengan santai untuk dinikmati, karena seks adalah ciptaan Allah yang harus dilakukan dengan kesucian dan kemurnian hati.

Ada 2 akibat dari dosa tersebut, yaitu:

A. Akibat Langsung bagi si Gadis

Peristiwa pertama disertai dengan rasa sakit, bukan hanya takut, cemas, atau rasa berdosa. Bagi seorang istri yang ingin sungguh-sungguh menikmati seks, biasanya ada waktu untuk penyesuaian. Si Gadis yang kini sudah tidak perawan lagi itu pulang dengan rasa takut, cemas, mungkin menangis dan mulai membenci pacarnya. Sebelumnya, pacarnya dianggap sebagai pria idamannya, namun sekarang semua telah berubah. Gambaran di atas menggambarkan perubahan perasaannya. Sebelum dosa persetubuhan dilakukan, ia sangat mencintai pacarnya - meskipun sebagian besar dengan cinta eros. Setelah perbuatan dosa itu, cintanya berkurang - bahkan mulai membenci - atau menjadi lebih banyak bencinya daripada cinta yang semula. 

Apa yang digambarkan di novel-novel murahan dan tidak realistis itu justru menceritakan cintanya pada pacarnya akan menjadi menggebu-gebu. Perubahan ini juga bisa dialami oleh pria. Alkitab sebagai buku yang realistis menggambarkan hal ini juga (tidak berarti si Pria meninggalkan si Gadis karena muak dan benci, karena hal itu mutlak akan terjadi). Ada di dalam kitab 2 Samuel 13:1-17.


B. Akibat Jangka Panjang

Ada dua kemungkinan kelanjutan dari perbuatan dosa itu, yaitu:

1. Hubungan mereka putus.
Karena kehilangan penghargaan dan timbul kebencian terhadap pacar, kemungkinan hubungan mereka akan putus. Kemungkinan ini lebih besar lagi apabila mereka masih remaja. Lalu, jika hubungan itu putus, siapa yang akan rugi besar? Tentunya si Gadis. Dan si Pria merasa untung, pergi tertawa dan bersiul-siul mencari teman baru. Kalaupun ia menyesal dan tidak tertawa-tawa, tidak ada 'bekas' padanya secara fisik yang merugikan hubungannya dengan teman wanitanya yang lain.

2. Hubungan yang dilanjutkan sampai menikah.
Perbuatan dosa pada masa lalu ini akan sangat merugikan si Gadis dan hubungannya dengan pria lain di masa nanti. Maka timbullah pertanyaan, "Apakah ia harus memberitahu kepada calon suaminya?" Memang pada abad ke-20 ini, pria-pria kita masih mengikuti standar ganda masyarakat. Harga diri pria memang rapuh, mudah retak. Ia perlu yang terbaik. Pikirannya kelak akan dihantui bahwa istrinya 'bekas' orang lain. Memang agak kekanak-kanakkan, tapi banyak pria yang tidak dapat melupakan hal itu.

Sungguh-sungguh memerlukan seorang yang benar-benar dewasa kepribadiannya untuk mengatasi shock dan kecewanya. Perlu juga pria yang rela mengampuni dan dapat melupakan masa lalu tunangannya. Jika sang Pria, tidak dengan kedewasaan Kristus, menerima si gadis 'bekas' namun tetap memaksakan diri untuk menikahinya (entah karena ia cantik, kaya, penting untuk karirnya, atau gengsi - 'Bukankah saya orang Kristen, jadi harus menerimanya?'), akibatnya akan tampak setelah mereka menikah. Ia tidak akan menghargai dan memiliki respek terhadap istrinya. Ia akan menggunakan masa lampau istrinya sebagai senjata untuk 'mengalahkan' istrinya.

Lebih baik tidak usah menikah, daripada menikah tapi tidak dihargai. Pernikahan seperti ini kemungkinan besar akan diracuni oleh perbuatan dosa masa lalu itu. Akibatnya mereka tidak saling mempercayai secara penuh dan ada rasa cemburu. Apabila mereka bertengkar, dosa masa lampau itu juga akan mewarnai dan mempertajam perselisihan itu.

Dalam situasi pernikahan yang parah seperti ini, mereka sangat memerlukan konseling yang dalam. Mereka patut meminta ampun untuk dosa-dosa mereka kepada ALLAH dan pada partnernya. Mereka perlu saling mengampuni, melupakan dosa itu dan menerimanya partnernya sebagaimana adanya. Mereka membutuhkan kasih Ilahi yang dewasa. Tentunya tidak semua pernikahan yang dimulai dengan dosa persetubuhan sebelum menikah berakhir seperti ini, tapi sangat lebih baik mencegah hal-hal tersebut di atas, supaya muda-mudi itu memasuki pernikahan dengan hati yang cerah dan kasih yang tidak dicemari ketidakpercayaan dan perasaan suci.