Jumat, 11 November 2011

Menggapai Kebahagiaan Dalam Pernikahan


Hidup, cinta dan hubungan semuanya mengalami pasang surutnya masing-masing. Meskipun Anda berharap hidup dalam keutuhan dan bahagia, Anda sesekali mungkin merasakan kekosongan dan perasaan kehilangan. Anda dapat merasakan kebahagiaan sejati di dalam hidup dan hubungan Anda saat ini dengan enam langkah menggapai hubungan yang lebih bahagia.

Penerimaan
Sebelum Anda dapat benar-benar bahagia, Anda harus terlebih dahulu menerima keberadaan Anda di dalam kehidupan dan hubungan yang Anda jalani. Daripada memfokuskan diri pada hal-hal yang tidak Anda miliki saat ini, berfokuslah pada hal-hal yang dimiliki hubungan Anda saat ini dan pencapaian apa yang telah Anda raih untuk sampai di titik ini. Hanya setelah Anda menerima keberadaan dan posisi Anda saat ini, maka Anda bisa fokus kemana Anda ingin membawa hubungan ini dan langkah apa yang akan Anda ambil untuk mencapai hal itu. Yang terpenting adalah belajarlah untuk bahagia dengan diri Anda sendiri dan dimana Anda ada saat ini.

Belajar
Ingatlah selalu bahwa Anda tidak tahu segalanya dan selalu bersedia untuk belajar lebih banyak. Menjalani sebuah pernikahan membutuhkan usaha dan kepedulian. Tak peduli apakah Anda baru menikah maupun sudah merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-50, Anda harus terus belajar “trik baru”. Teruslah belajar mengenai hal-hal baru dari pasangan Anda, hal-hal yang dapat membumbui hubungan pernikahan Anda, dan akan membawa lebih banyak kebahagiaan dan sukacita ke dalam pernikahan Anda.

Sederhanakan
Berusahalah untuk menyederhanakan hidup Anda. Kurangnya waktu dan kehadiran dapat mendatangkan tekanan dan ketegangan yang luar biasa di dalam suatu hubungan, maka kuncinya adalah dengan mengurangi hambatan demi hambatan. Evaluasi hidup Anda dalam hal tugas-tugas, biaya, atau hal lain yang menambah beban Anda dan menjauhkan Anda dari hubungan yang sehat. Sebaliknya, jadwalkan waktu setiap hari untuk diri sendiri. Sedikit waktu untuk diri sendiri dapat mempengaruhi semangat hidup Anda, membuat Anda lebih bahagia dalam hidup dan cinta. Tekanan finansial merupakan salah satu penyebab banyaknya jumlah perceraian hari-hari ini. Buatlah rencana untuk mengurangi beban keuangan seperti utang dan tagihan yang tidak penting. Tanpa adanya kekuatiran berlebih yang disebabkan ketidakstabilan keuangan, Anda akan merasa nyaman dan bahagia di dalam kehidupan dan di dalam hubungan pernikahan Anda.

Antisipasi
Setelah Anda bahagia dengan keberadaan Anda dan mulai mengupayakan masa depan yang lebih bahagia secara bersama-sama, mulailah untuk mengantisipasi dan mengharapkan masa depan tanpa menggantungkan kebahagiaan pada satu hal saja. Rangkullah harapan dan mimpi Anda dari penemuan baru akan kebahagiaan dan peganglah janji Firman Tuahn untuk terus melanjutkan kebahagiaan sepanjnag hidup Anda. Jika Anda berbahagia di dalam kehidupan Anda dan percaya kepada diri Anda serta kepada janji Firman Tuhan atas masa depan Anda, antisipasi kebahagiaan di masa depan akan menjadi kenyataan.

Menyebarkan Kebahagiaan
Di manapun Anda pergi sepanjang hidup Anda, teruslah menyebarkan kebahagiaan Anda, tidak hanya kepada pasangan Anda, tapi juga kepada teman-teman, keluarga dan orang asing sekalipun. Tidak diragukan lagi Anda pasti akan mengalami hari yang suram, namun sukacita dari suatu hubungan pernikahan adalah pasangan Anda akan selalu ada di sana untuk mengembalikan kebahagiaan itu. Saling tersenyumlah satu sama lain. Tertawa bersama. Sebarkan sukacita. Setelah Anda menyebarkan kebahagiaan satu sama lain, mulailah bergerak keluar. Tersenyumlah pada mereka yang sepertinya sedang down. Peluklah mereka yang sedang menangis. Sapalah orang asing yang berpapasan dengan Anda di trotoar. Semakin banyak kebahagiaan yang Anda bagikan, pada akhirnya Anda akan merasa lebih berbahagia.

Bersyukur

Bersyukurlah selalu atas siapa diri Anda dan apa yang Anda miliki di dalam kehidupan. Pastikan agar pasangan Anda tahu betapa bersyukurnya Anda atas kehadirannya di dalam keidupan Anda. Luagkan waktu sejenak untuk berterima kasih kepadanya atas apa yang dilakukannya bagi Anda. Berterima kasihlah atas cinta kasihnya. Bersyukurkah untuk hal-hal kecil yang seringkali Anda abaikan. Bersyukurlah untuk masa-masa sulit dan kekuatan untuk saling menopang selama melalui masa-masa itu. Peluklah satu sama lain dan bersyukurlah bahwa Anda memiliki saat ini untuk bersyukur bersama-sama.

Hubungan Mertua dan Menantu

Ada seseorang yang pernah berdoa demikian, "Tuhan, berikanlah aku seorang suami. Namun tolong agar suamiku itu sudah tidak punya orang tua lagi." Mengapa berdoa demikian? Orang itu menjawab, "Karena saya sering menjumpai banyak keluarga yang mertuanya bersikap bukan sebagai penolong, tetapi perongrong." Memang, sering terjadi masalah antara mertua dengan menantu, khususnya antara mertua perempuan dengan menantu perempuannya.
Para menantu sering kali berpikir, bagaimana caranya membuat sang mertua bersikap baik kepada mereka. Jangan lupa, para mertua juga memunyai kerinduan yang sama, yakni bagaimana membuat sang menantu menghormati dan menyayangi mereka.
Namun sebenarnya untuk menjadikan sang mertua atau sang menantu bersikap baik terhadap Anda, hal itu banyak bergantung pada sikap Anda sendiri. Benarlah yang dikatakan oleh sebagian orang, "Sebelum engkau bisa mengubah sikap orang lain terhadap dirimu, ubahlah lebih dahulu sikapmu sendiri terhadap orang lain."
Kisah Naomi dan Rut di dalam kitab Rut adalah contoh yang baik bagi hubungan antara mertua dengan menantu. Mari kita pelajari berikut ini:
  1. Naomi menjalani training iman dan kepribadian. Naomi berarti kenikmatan. Namun fakta hidupnya ternyata pahit. Ia dan keluarganya harus mengungsi ke negeri Moab karena kelaparan terjadi di Israel. Selama sepuluh tahun, mereka tinggal di Moab. Dan Naomi mengalami hal yang lebih pahit lagi, yakni di tempat pengungsian, suami dan kedua anak laki-lakinya meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, tanpa sempat memberikan cucu kepadanya. Namun, kepahitan itu tidaklah membuat Naomi lemah iman dan mengutuki Tuhan. Banyak kesulitan malah membentuk pribadi dan imannya sehingga lebih mantap. Berkaitan dengan kesulitan, ada dua macam kepribadian. Ada yang seperti telur, ada pula yang seperti bola tenis. Permukaan telur halus, tidak seperti bola tenis yang kasar. Tetapi telur sangat mudah pecah apabila terbentur dengan benda keras. Sebagian orang memiliki kepribadian seperti telur yang sangat rentan terhadap benturan. Sedikit tersinggung, dia sudah sakit hati. Sediki t kesulitan menimpa, dia sudah putus asa. Tetapi, bola tenis berbeda. Jangankan terbentur, dilempar pun tidak apa-apa. Semakin keras lemparannya, semakin keras pula mentalnya. Kepribadian orang seperti ini tidak mudah "pecah" dan frustrasi.
  2. Naomi bersikap manis terhadap kedua menantunya. Kehilangan kedua anak lelaki tidaklah membuat Naomi menyalahkan kedua menantunya dengan menyangka mereka telah berbuat yang tidak pantas kepada suami mereka. Tidak pernah keluar perkataan tuduhan dari Naomi kepada kedua menantunya, "Orpa dan Rut, karena kalian tidak bisa mengurus suami, maka anak-anakku harus mati dalam usia muda." Jikalau Naomi tidak bersikap baik terhadap kedua menantunya, mana mungkin mereka mau mengikuti dia pulang ke negeri Israel, padahal mereka berasal dari bangsa Moab. "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu," demikianlah kata Orpa dan Rut (Rut 1:10). Untuk kedua kalinya, Naomi menyuruh mereka pulang ke rumah, dan dengan berat hati, disertai dengan tangisan, Orpa mohon pamit kepada mertuanya itu, namun Rut tetap bertekad untuk menemani Naomi dengan berkata, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku." (Rut 1:14-16).
  3. Naomi menganggap kedua menantunya sama seperti anaknya sendiri. Inilah yang menjadi penyebab mengapa ia bisa bersikap manis terhadap sang menantu. Naomi memanggil mereka dengan "anak- anakku" (Rut 1:11-13). Mereka bukanlah "orang luar" yang patut dicurigai. Tidak ada seorang pun yang senang dicurigai. Apabila sang mertua selaiu mencurigai menantunya, maka hal itu akan menyebabkan kesusahan di dalam hati para menantunya.
  4. Naomi berhasil menyaksikan imannya kepada menantunya (Rut 1:16-17). Sikap hidupnya yang baik memudahkannya untuk bersaksi kepada Rut, yang pada mulanya adalah orang kafir. Hasilnya, Rut menjadi percaya kepada Allah Yahweh. Dia dapat berkata, "Tuhanmu adalah Tuhanku, Allahmu adalah Allahku."
  5. Naomi tidak memaksakan kehendak kepada menantunya. Dia menyadari kebutuhan Rut yang masih muda. Dia memberi kebebasan kepada Rut untuk memilih, apakah akan ikut dengan dia atau pulang ke negerinya sendiri. Hal memaksakan kehendak sering kali menjadi masalah. Ada sebagian mertua karena merasa diri cukup kaya, berjasa, dan berpengalaman, berusaha memaksakan kehendak kepada anak-anak dan menantu mereka. Cara yang pernah dipakai orang tua pada masa lalu tidak selalu cocok/efektif pada zaman sekarang ini. Misalnya, ada seorang mertua yang mau memakaikan pakaian tebal kepada cucunya yang sedang menderita demam. Namun, hal itu ditentang oleh menantu perempuannya. Karena berdasarkan nasihat sang dokter anak, baju yang terlalu tebal akan menyulitkan udara untuk keluar, akibatnya panas badan sang bayi sulit turun. Namun, sang mertua tidak memaksakan kehendaknya, melainkan memberikan kebebasan kepada ibu dari bayi itu untuk merawat dengan caranya sendiri yang juga ba ik.
  6. Naomi memikirkan kebaikan menantunya. Dia menyadari bahwa Rut masih muda dan membutuhkan seorang suami yang bisa menjadi sandaran hidupnya. Naomi mencarikan suami bagi menantunya yang telah menjadi janda. Hal ini sangat jarang terjadi! Banyak mertua malah berkata demikian, "Enak saja, anakku sudah mati, sekarang menantuku itu malah mencari jodoh baru. Aku sudah jadi janda, biarlah menantuku menjadi janda juga." Naomi tidaklah bersikap demikian. Dia memikirkan kebaikan menantunya. Naomi bukan saja menunjukkan "jalan", tetapi dia juga mengajari Rut langkah- langkah yang perlu dilakukan untuk dapat memikat hati Boas (Rut 3:1-5). Naomi menasihati Rut agar ia berdandan rapi, mandi, berurap, dan berpakaian baru. Karena kemiskinan, Rut menjadi seorang wanita yang sangat bersahaja; mungkin ia kurang memerhatikan penampilan, akibatnya dia nampak lebih tua daripada usia yang sebenarnya. Naomi yang mengetahui kelemahan Rut itu tidak menyoroti dan menjelek-jelekkannya di depan orang lain, malah ia mengajari agar Rut terlihat lebih cantik. Hasilnya adalah Rut dipersunting oleh Boas, pengusaha besar itu. Buah dari pernikahan mereka adalah lahirlah anak yang bernama: Obed (artinya: ibadah). Dari Obed, lahirlah Isai yang menjadi ayah dari Raja Daud. Mereka menjadi nenek moyang dari manusia Yesus.
Selain teladan Naomi, kita juga perlu melihat diri Rut yang memberikan teladan hidup yang baik sebagai seorang menantu.
  1. Ia menganggap mertua sebagai orang tuanya sendiri yang perlu ditemani, dirawat, dan dikasihi. Perhatikanlah perkataan Rut kepada Naomi, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut!" (Rut 1:16-17). Sikap Rut yang demikian manis kepada mertuanya itu diketahui dan dipuji-puji oleh banyak orang, termasuk oleh Boas (Rut 2:11).
  2. Rut tidaklah bersifat materialistis. Kesetiaannya kepada Naomi bukanlah disebabkan mertuanya itu seorang yang kaya, tetapi sebaliknya, Naomi telah jatuh miskin. Naomi sendiri berkata kepada penduduk Betlehem, "Dengan tangan penuh aku pergi, tetapi dengan tangan kosong TUHAN memulangkan aku." (Rut 1:21a).
  3. Rut menjadi seorang menantu yang rajin dan berinisiatif untuk bekerja. Dia tidak menjadi seorang pemurung yang hanya menyesali kemalangan nasibnya. Tanpa disuruh, ia memohon izin kepada mertuanya untuk bekerja, "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." (Rut 2:2a). Dengan rajinnya Rut terus sibuk bekerja dari pagi sampai siang tanpa berhenti (Rut 2:7b).
  4. Rut mau mendengar nasihat mertuanya. Sebagai seorang pendatang dari bangsa Moab, pastilah Rut kurang memahami adat istiadat orang Yahudi. Oleh karena itu, Naomi banyak membimbingnya, khususnya pada waktu ia mencari seorang penebusnya, yakni Boas. Respons Rut terhadap nasihat Naomi adalah: "Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan." (Rut 3:5).
Jadi kesimpulannya: Naomi dan Rut saling mengasihi, memerhatikan, dan saling baik. Alhasil, terciptalah hubungan yang begitu indah di antara sang mertua perempuan dengan menantunya. Hubungan Anda pun bisa demikian. Kuncinya adalah usaha bersama dan mohon pertolongan dari Roh Kudus. Amin.

Sumber :
Halaman : 78 -- 84
Judul Buku : Hanya Maut yang Memisahkan Kita
Pengarang : Pdt. Roby Setiawan, Th.D.
Penerbit : Setiawan Literature Ministry
Kota : Semarang
Tahun :2007

Mertua dan Menantu

Relasi mertua dan menantu acap kali menjadi sebuah relasi berduri. Kesalahpahaman dan luka berjamuran; tidak jarang relasi suami istri pun terpengaruh dan memburuk akibat masalah ini. Pertama, kita harus melihat berbagai masalah yang kerap timbul antara mereka, kemudian barulah kita mencari solusinya.

Jenis Konflik dan Solusi
  1. Pasangan nikah tinggal di rumah mertua dan mertua memperlakukan menantu sebagai "tamu" yang tidak memunyai hak atas pasangan ataupun anak-anaknya. Dalam kasus ini, mertua harus merelakan menantu untuk menjadi mitra, bukan bawahannya. Memberikan hak penuh kepada menantu untuk berbuat sekehendak hatinya di rumah memang tidak realistis dan tidak seharusnya sebab rumah ini adalah tempat kediamannya. Jadi, apa yang dapat diharapkan oleh menantu adalah ia dijadikan mitra. Secara konkretnya, mertua mengajaknya terlibat dalam pengambilan keputusan menyangkut rumah dan menantu mengajak mertua terlibat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keluarga.
  2. Pasangan nikah tinggal di rumah sendiri namun mertua ikut tinggal bersama. Terjadi konflik karena perebutan hak dan kuasa, baik atas pasangan, anak-anak, masak-memasak, atau urusan rumah lainnya.
    Dalam kasus ini, sebaiknya menantu yang mengundang mertua, menjadi mitra, bukan tamu di rumahnya. Libatkanlah mertua dalam pengambilan keputusan, baik yang menyangkut rumah maupun keluarga. Mintalah pendapatnya, namun tetap keputusan akhir berada di tangan menantu. Sebaliknya, mertua pun harus mengonsultasikan keinginannya yang berkaitan dengan keluarga kepada menantunya. Dalam pengasuhan anak, menantu dapat bertanya pendapat mertua dan sebaliknya, mertua pun harus meminta izin untuk beraktivitas atau melakukan sesuatu bersama anak-anak.
  3. Pasangan nikah tinggal sendiri terpisah dari mertua, namun terjadi konflik akibat tuntutan mertua dan menantu atas pasangan dan anak. Ini sering terjadi bila mertua bergantung pada pasangan atau sebaliknya, pasangan masih bergantung pada mertua.
Prinsip Relasi Mertua dan Menantu
  1. Kita mesti mengutamakan relasi nikah di atas relasi anak-orang tua. Kita tidak seharusnya melalaikan kebutuhan orang tua, namun tidak boleh kita melakukannya di atas pengorbanan pasangan, kecuali itu dikehendaki pasangan.
  2. Orang tua bebas mengemukakan perasaannya kepada anak tanpa harus dihantui rasa takut kalau-kalau keluh kesah ini akan disampaikan kepada menantunya. Pernikahan tidak serta merta memutuskan relasi orang tua-anak; jadi, anak tidak harus menceritakan komentar orang tua kepada pasangannya dan menantu pun harus menghormati privasi ini.
  3. Pada dasarnya kebutuhan utama yang terkandung dalam setiap relasi adalah kebutuhan untuk dihargai. Jadi, berikanlah.
  4. Jangan memersoalkan hal kecil, maafkan dan lupakanlah. Firman Tuhan mengingatkan, "Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran." (Amsal 19:11).

DINAMIKA HUBUNGAN IBU MERTUA DAN MENANTU PEREMPUAN

Dalam banyak kebudayaan, hubungan ibu mertua dan menantu perempuan dianggap penuh dengan ketegangan. Pepatah dan lelucon umum mencerminkan adanya kecenderungan permusuhan antara seorang ibu mertua dan menantu perempuannya. Contohnya, sebuah pepatah Tunisia, suatu negara di Afrika bagian utara, mengatakan: "Semoga anak perempuanku menjadi mentari di musim dingin. Semoga menantu perempuanku menjadi mentari di musim panas." (Mentari di musim dingin menghangatkan badan. Sebaliknya, terik mentari di musim panas membuat tidak nyaman.) Seorang ibu mertua tidak memunyai hak istimewa yang sama seperti seorang ibu.

Kitab Rut menggambarkan hubungan ibu mertua dan menantu perempuan dengan perbedaan mencolok. Naomi dan Rut yang tinggal di tanah Israel dan Moab, memunyai hubungan yang saling memerhatikan dan mendukung. Hubungan mereka menjadi contoh ideal dalam hubungan ibu mertua dan menantu perempuan.

Banyak dari kita akrab dengan kedua kutub hubungan mertua-menantu: hubungan yang akrab dan penuh perhatian, serta hubungan yang apatis dan penuh kebencian. Di antaranya, terdapat jenis hubungan dengan tingkat kedekatan dan variasi yang berbeda-beda.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempersulit hubungan ibu mertua dan menantu perempuan.

1. Sudut Pandang Menantu Perempuan

Awal permasalahan sering timbul saat pertemuan pertama antara calon mertua-menantu menjelang pernikahan. Calon mempelai perempuan resah: "Apakah Ibu mertuaku menyukaiku? Apakah dia merestui aku sebagai pilihan putranya?" Mempelai perempuan yang peka mengetahui perasaan ibu mertuanya dari kesan pertama. Seorang mempelai perempuan yang masih muda menyadari penolakan itu: "...karena aku sudah hamil."

Bagi beberapa menantu perempuan, kesulitan berawal dari keterlibatan ibu mertua dalam merancang pernikahan: "Itulah alasan kami kawin lari -- beliau ingin mengambil alih pernikahan kami." Seorang lainnya menggambarkan sosok ibu mertuanya: "(Dia) berteriak kepadaku untuk mengundang ayahnya ke pernikahan, untuk tidak menghapus nama mereka dari surat undangan, dst.."

Seorang suami mungkin menjadi pihak yang salah. Secara tidak sengaja ia menyebabkan perasaan-perasaan buruk antara istri dan ibunya, ketika ia tidak menjadikan istrinya sebagai prioritas utama. Kekurangpekaan ini membuka pintu bagi daftar tuntutan waktu, uang, kasih sayang, dan kesetiaan dari mertua yang semakin panjang. Sang menantu perempuan mungkin mengeluh: "Suamiku membiarkan ibunya mengatur hidupnya" atau "Ibu mertuaku mendatangi rumah kami kapan pun beliau mau."

Bapak-ibu mertua bisa menjadi keterlaluan dan tidak menunjukkan rasa hormat atas privasi pasangan yang telah menikah. Lalu, kita mendengar cerita-cerita "seram" seperti: "Ibu mertuaku datang ke pemeriksaan kandunganku (dia seperti perawat di ruang dokter) dan meminta dokter untuk merayuku, lalu dia berbohong dan menyangkal semuanya di depan suamiku."

Sumber persoalan lain dalam hubungan mertua-menantu adalah mertua yang suka melontarkan kritik, alih-alih menghargai perbedaan. Menantu perempuan yang selalu menganggap dirinya dikritik, alih-alih dipuji oleh ibu mertuanya merasa sakit hati, tidak dipahami, dan marah.

2. Sudut Pandang Ibu Mertua

Barangkali, menantulah yang terkadang mengkritik ibu mertua yang sering berkunjung, namun tidak mau mengasuh atau bermain dengan cucunya. Seorang suami mungkin menjadi pihak yang salah. Secara tidak sengaja ia menyebabkan perasaan-perasaan buruk antara istri dan ibunya, ketika ia tidak menjadikan istrinya sebagai prioritas utama.

Seorang ibu mertua mengeluh, "Menantu perempuanku hanya meneleponku jika dia ingin aku membelikan sesuatu atau mengasuh cucu. Di luar itu aku tidak dianggap." Seorang lainnya mengeluh: "Menantu perempuanku tidak peduli dengan hidupku." Siapa pun, tanpa memandang usia, ingin dihargai.

Sebuah catatan untuk Anda yang pertama kali menjadi ibu mertua: Ibu mertua tidak memunyai hak istimewa yang sama dengan seorang ibu. Dia tidak lagi bisa menghubungi atau berkunjung setiap saat. Dia tidak bisa memasuki kehidupan putranya sambil meminta pertolongan secepatnya seperti: "Bantu Ibu membersihkan garasi atau memperbaiki jendela." Sang istri, menantu perempuannya, sekarang menjadi prioritas utama putranya. Kebutuhan sang istrilah yang harus didahulukan sekarang.

Bagaimana Cara Memperbaiki Hubungan Ibu Mertua dan Menantu Perempuan?

Setiap orang pasti merasa dirinya penting dan layak dihargai. Perasaan ini akan bertumbuh ketika kita memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat sejak awal hubungan tersebut. Seorang mempelai perempuan berkata kepada ibu mertuanya dalam pernikahan: "Terima kasih banyak untuk putra Anda." Sang ibu mertua masih diliputi kebahagiaan 10 tahun kemudian ketika ia teringat perkataan menantu perempuannya. Mengucapkan "terima kasih" atau menulis ucapan tersebut merupakan hal penting. Seorang ibu mertua yang berkata kepada menantu perempuannya: "Aku bahagia David memilihmu dan kalian bahagia bersama," merupakan awal yang sangat bagus.

Lagipula, pasangan suami istri harus saling meyakinkan bahwa dia menghargai pasangannya sebagai pribadi yang paling penting dalam hidupnya. Banyak gangguan oleh mertua berkurang, bahkan hilang, ketika pasangan yang telah menikah merasa yakin bahwa pasangannya adalah prioritasnya.

Nasihat bagi para ibu mertua: Ibu mertua tidak memiliki hak-hak yang sama dengan menjadi ibu. Anda tidak lagi bisa leluasa memberikan nasihat, berkunjung, atau menelepon anak-anak Anda yang telah menikah, khususnya pada tahun pertama. Mundurlah dan tahanlah diri Anda saat ingin memberikan saran dan kritik yang tidak diminta.

Nasihat bagi para menantu perempuan: Berusahalah untuk memperbaiki hubungan dengan bersikap peduli dan penuh rasa hormat. Hargailah ibu mertua Anda sebagai seorang pribadi, bukan untuk memanfaatkannya. Ingatlah bahwa beliau mengharapkan dan membutuhkan penghargaan dan rasa hormat sebagaimana diri Anda sendiri.

"Sopan santun dan tata krama yang sederhana itu seumpama angin dan air yang dapat mengubah benda-benda keras." Ungkapan ini adalah aturan penting baik bagi menantu perempuan maupun ibu mertua. Rasa hormat dan kebaikan hati dibutuhkan kedua belah pihak untuk menikmati hubungan yang berpotensi menjadi luar biasa ini

Resep Pernikahan Bahagia

Memang, beberapa pasangan sepertinya harus bekerja lebih keras dalam menjalankan pernikahan mereka dibandingkan pasangan lainnya, namun masih merupakan hal yang mungkin untuk memiliki pernikahan yang sangat bahagia. Saya menemukan 7 resep rahasia untuk menciptakan pernikahan bahagia.

1. Komunikasi

Pasangan perlu berbicara terbuka satu sama lain di dalam pernikahan agar dapat berjalan dengan baik. Jika Anda berdua menyembunyikan hal-hal satu sama lain atau tidak membicarakan apa yang mengganggu Anda, maka kecurigaan dan kemarahan cenderung dibangun di sana. Kemarahan yang terpendam dan ketidakpercayaan dapat meletus menjadi kekacauan yang buruk yang mungkin sulit untuk dibereskan.

2. Tawa

Banyak orang yang mengatakan bahwa tawa merupakan obat terbaik dan saya setuju dengan hal itu. Saya dan suami selalu menertawakan sesuatu yang terjadi di hari itu. Kami belum pernah melalui hari tanpa menertawakan sesuatu di hari itu. Terkadang sangatlah baik untuk menertawakan diri Anda sendiri. Jangan terlalu sensitif mengenai apa saja atau Anda akan menemukan bahwa diri Anda akan lebih banyak merengut dibandingkan tertawa.

3. Kepercayaan

Saling percaya satu sama lain dapat menghilangkan kemungkinan timbulnya keraguan dalam banyak bidang di dalam pernikahan, seperti masalah uang, kesetiaan, atau bahkan penilaian pada situasi tertentu. Setiap orang harus saling mempercayai satu sama lain sebelum mereka mengucapkan janji pernikahan. Sangatlah penting untuk mempertahankan tingkat kepercayaan yang tinggi sepanjang pernikahan untuk menjadikan kehidupan bersama sebagai pengalaman yang lebih menyenangkan.

4. Persahabatan

Saya pikir penting bagi pasangan menikah untuk memiliki hubungan persahabatan yang erat, serta kehidupan cinta bersama. Sebenarnya jauh lebih sulit untuk mencintai seseorang yang tidak Anda sukai, namun dengan adanya persahabatan, cinta akan semakin terbangun dengan sendirinya di dalam pernikahan.

5. Cinta

Tidak semua pernikahan dibangun di atas cinta, namun cinta dapat menjadi bahan utama untuk sebuah pernikahan yang benar-benar bahagia. Ketika Anda mengasihi satu sama lain, sangatlah mungkin untuk melakukan hal-hal yang membuat pasangan Anda merasa baik, memberikan dukungan saat diperlukan, dan melakukan hal-hal yang lahir dari hati bukan karena kewajiban.

6. Kompromi

Anda tidak harus memiliki segalanya dengan cara Anda dan pasangan Anda pun tidak perlu demikian. Selalu bersedia untuk memberi setiap saat. Pernikahan adalah hubungan yang memberi dan mendapatkan. Tidak ada alasan mengapa Anda berdua tidak dapat membuat pengorbanan saat ini dan membuat pasangan Anda bahagia. Jika saya selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, tidak hanya akan membuat saya merasa bosan tapi juga merasa tidak enak karena merampas kebahagiaan pasangan saya.

7. Pengampunan

Jika Anda tidak bisa memaafkan satu sama lain, maka bagaimana Anda dapat mempertemukan perbedaan Anda? Argumen terjadi di antara dua pihak, tak peduli seberapa besar mereka saling mengasihi, namun pasangan seharusnya mampu saling mengampuni sebelum matahari terbenam.